SELAMAT DATANG DI OFFICIAL SITE ... DINAS SOSIAL PROVINSI KALIMANTAN SELATAN                                                                                                                                                                                       PENDUDUK MISKIN BERKURANG BILA ANDA IKUT PEDULI

Peringatan ke-155 Wafatnya Pahlawan Nasional Pangeran Antasari

Administrator | Kamis, 12 Oktober 2017 - 08:43:27 WITA | dibaca: 114 pembaca

Pada tanggal 11 Oktober selalu menjadi moment bersejarah bagi bangsa Indonesia khususnya Provinsi Kalimantan Selatan. Dimana, salah satu pahlawan nasionalnya yakni Pangeran Antasari, tutup usia tepat 11 Oktober 1862 silam.

Tahun ini, Peringatan Wafatnya Pahlawan Nasional Pangeran Antasari ke-155 dilaksanakan di Makam Pahlawan Nasional Pangeran Antasari di Jalan Malkon Temon Kelurahan Surgi Mufti Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin 70123, yang merupakan tempat peristirahatan terakhirnya. Upacara peringatan tersebut dipimpin langsung oleh Gubernur Kalimantan Selatan, H. Sahbirin Noor.

Pangeran Antasari sendiri, adalah Sultan Banjar. Pada 14 Maret 1862, dia dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.

Sejak menjadi Sultan, Pangeran Antasari terus memerangi tirani dari Belanda dengan berbagai peperangan. Perang Banjar pun pecah saat Pangeran Antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengaron tanggal 25 April 1859.

Selanjutnya peperangan demi peperangan dikomandoi Pangeran Antasari di seluruh wilayah Kerajaan Banjar. Dengan dibantu para panglima dan pengikutnya yang setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.

Pertempuran yang berkecamuk makin sengit antara pasukan Pangeran Antasari dengan pasukan Belanda, berlangsung terus di berbagai medan. Pasukan Belanda yang ditopang oleh bala bantuan dari Batavia dan persenjataan modern, akhirnya berhasil mendesak terus pasukan Pangeran Antasari. Dan akhirnya Pangeran Antasari memindahkan pusat benteng pertahanannya di Muara Teweh.

Berkali-kali Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, namun dia tetap pada pendiriannya. Ini tergambar pada suratnya yang ditujukan untuk Letnan Kolonel Gustave Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861.

“Dengan tegas kami terangkan kepada tuan: Kami tidak setuju terhadap usul minta ampun dan kami berjuang terus menuntut hak pusaka (kemerdekaan)”

Dalam peperangan, Belanda pernah menawarkan hadiah kepada siapa pun yang mampu menangkap dan membunuh Pangeran Antasari dengan imbalan 10.000 gulden. Namun sampai perang selesai tidak seorangpun mau menerima tawaran ini.

Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun.

Menjelang wafatnya, dia terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya setelah terjadinya pertempuran di bawah kaki Bukit Bagantung, Tundakan. Perjuangannya dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Muhammad Seman.

Belum Ada Komentar



Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)